Kurikulum PGSD FKIP UR

Berikut ini adalah kurikulum untuk Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) FKIP Universitas Riau untuk dijadikan sebagai pedoman dalam mengambil mata kuliah di setiap semesternya.

Kurikulum untuk Mahasiswa Angkatan 2007 dan 2008 dapat diunduh disini

Kurikulum untuk Mahasiswa Angkatan 2008+2009 Transfer dapat diunduh disini atau

Kurikulum untuk Mahasiswa Angkatan 2009 dapat diunduh disini

Kurikulum untuk Mahasiswa Angkatan 2010+2011 dapat diunduh disini

SAP Semester Genab 2010/2011

Laman ini menyajikan perangkat perkuliahan (satuan acara perkuliahan) pada semester genab tahun akademis 2010/2011 pada program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) FKIP Universitas Riau yang dapat diunduh dan dimanfaatkan sebagai acuan atau pedoman pelaksanaan perkuliahan, baik oleh dosen maupun mahasiswa. Semoga bermanfaat.

Mata Kuliah: Pendidikan Pancasila unduh di sini, Pendidikan Kewarganegaraan unduh di sini, dan Pendidikan PKn di SD unduh di sini.

 

Nilai Daerah 2010/2011

Berikut ini kumpulan nilai mahasiswa non-reguler program studi PGSD FKIP Universitas Riau semester ganjil tahun akademis 2010/2011.

  1. Mata Kuliah Dasar TIK/Komputer (Pekanbaru-A), disini.
  2. Mata Kuliah Dasar TIK/Komputer (Pekanbaru-B), disini.
  3. Mata Kuliah Dasar TIK/Komputer (Dumai-SMA), disini.
  4. Mata Kuliah Media Pembelajaran Berbasis Teknologi di SD (Pekanbaru-E), disini.
  5. Mata Kuliah Pendidikan Pancasila (Kubu-SMA), disini.
  6. Mata Kuliah Kajian Pengembangan dan Pembelajaran IPS SD (Dumai-D2), disini.
  7. Mata Kuliah Budaya Masyarakat Demokrasi (Siak), disini.
  8. Mata Kuliah Budaya Masyarakat Demokrasi (Koto Gasib), disini.
  1. Mata Kuliah Budaya Masyarakat Demokrasi (Siak), disini.

HandOut1 Pend. IPS di SD

 

A. Pengertian Pendidikan IPS

Ilmu Pengetahuan Sosial adalah satu istilah yang bermula dari kata social studies, karena terjemahan secara harfiah dari social studies adalah ilmu sosial. Kata social studies telah lama digunakan dalam kurikulum dasar sekolah-sekolah di Amerika yang ditujukan untuk bidang kelimuan yang memiliki misi untuk membantu peserta didik mengetahui dan memahami bagaimana seluk beluk kehidupan sosial dimana mereka tinggal dan membantu untuk membentuk sisi kemanusiaan mereka, termasuk di dalamnya kebudayaan dan kewarganegaraan (Jarolimek, 1986).

Pendidikan IPS adalah bidang studi yang mempelajari, menelaah mengalisis gejala dan masalah sosial di masyarakat dengan meninjau dari berbagai aspek kehidupan atau suatu perpaduan (Ischak, 1997).  Istilah IPS, yang secara resmi dipergunakan di Indonesia sejak tahun 1975, adalah istilah dalam Bahasa Indonesia untuk pengertian social studies. Pada tahun 1967 perhatian masyarakat terhadap kurikulum social studies, atau studi sosial dalam bahasa Indonesia, semakin besar. Namun pada perkembangannya, banyak para ahli yang memberikan balasan atau pengertian studi sosial yang berbeda-beda.

Mengenai pengertian pendidikan IPS Edgar G. Wesley menyatakan: “Pendidikan IPS adalah penyederhanaan dari disiplin ilmu-ilmu sosial yang diorganisir, disajikan secara ilmiah dan psikologis untuk mencapai tujuan pendidikan” (Sapriya, 2006).  Sejalan dengan pengertian ini,  Somantri (2001) juga menyatakan bahwa pendidikan IPS merupakan seleksi dan rekonstruksi dari disiplin ilmu pendidikan dan disiplin ilmu-ilmu sosial, humaniora yang diorganisir dan dan disajikan secara psikologis dan ilmiah untuk tujuan pendidikan.

Pengajaran IPS pada hakekatnya pengajaran interelasi dari berbagai aspek kehidupan manusia di masyarakat. Hal inl sesuai dengan pemyataan: “the social studies curriculum is designed to help students resolve personal and social problems through out rational social action (Banks, 1977). Maka dapat kita uraikan bahwa pendidikan IPS di negara kita adalah disiplin ilmu yang mengkaji gejala-gejala sosial dan lingkungan masyarakat sekitar.

Pengertian di atas sejalan dengan pendapat The Board of  the National Council for The Social Studies (NCSS), mengemukakan definisi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial atau Studi Sosial sebagai berikut:

Social studies is the integrated study of the social sciences and humanities to promote civic competence. Within the school program, social studies provide coordinated systematic study drawing upon such diciplines as anthropology, archeology, economics, geography, history, law, philosophy, political science, psichology, religion and sosiology, as well as appropriate content from humanities, matematics, and natural sciences. The primary purpose of social studies is to help young people develop the ability to make informed and reasoned decision for the public good as citizens of a culturally diverse, democratic society in an interdependent world (NCSS, 1994: 3).

Terjemahan bebas dari pernyataan di atas adalah sebagai berikut: “suatu studi yang terintegrasi dalam bidang ilmu-ilmu sosial dan budaya untuk meningkatkan kemampuan warga negara. Di dalam program sekolah, studi sosial memberikan studi yang sistematis dan terkoordinasi dalam disiplin ilmu seperti antropologi, arkeologi, ekonomi, geografi, sejarah, hukum, filsafat, ilmu politik, psikologi, agama dan sosiologi, dan juga materi yang sesuai dari humaniora, matematik dan IPA.

Sementara itu, Nursid Sumaatmadja (2001), memberikan penjelasan pada dasarnya IPS berkenaan dengan kehidupan manusia yang melibatkan segala tingkah laku dan kebutuhannya. IPS berkenaan dengan ciri manusia menggunakan usaha memenuhi kebutuhan materinya, memenuhi kebutuhan budayanya, kebutuhan kejiwaannya, pemanfaatan sumber daya yang ada dipermukaan bumi, mengatur kesejahteraan dan pemerintahannya, dan lain sebagainya yang mengatur serta mempertahankan kehidupan masyarakat.

Hakikat IPS menurut Chapin JR Messick (1992) adalah: (1) membina pengetahuan siswa tentang pengalaman manusia dalam kehidupan bermasyarakat pada masa lalu, sekarang dan yang akan datang; (2) menolong siswa untuk mengembangkan keterampilan (skill) untuk mencari dan mengolah informasi; (3) menolong siswa untuk mengembangkan nilai/sikap demokratis dalam kehidupan bermasyarakat; (4) menyediakan kesempatan kepada siswa untuk ambil bagian/turut serta dalam kehidupan sosial.

 

B. Hakekat dan Tujuan Pendidikan IPS

Keseluruhan proses pendidikan di sekolah, merupakan aktivitas yang paling utama pembelajaran. Keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan banyak ditentukan oleh bagaimana proses pembelajaran dilaksanakan. Inti dari proses pendidikan secara formal adalah mengajar. Sementara itu, inti dari proses pengajaran adalah siswa belajar. Aktivitas belajar tidak akan bisa terlepas dari aktivitas mengajar. Dimana terjadi proses belajar akan selalu dibarengi deagan mengajar. Oleh karenanya, dalam istilah kependidikan, kita mengenal istilah proses belajar mengajar (PBM).

Tanpa mengaitkan mengajar dalam rangkaian proses belajar yang terjadi pada diri siswa, maka kegiatan mengajar akan terlepas dari akar pembelajaran yang tujuannya menghasilkan perubahan pada diri siswa. Efektivitas belajar mengajar sangat ditentukan oleh bagaimana proses terjadinya interaksi yang dinamis dan unik antara guru mengajar dan siswa belajar. Pengajaran IPS harus diarahkan pada pengetahuan dan pemahaman siswa terhadap berbagai kenyataan sosial (Ischak, 1997).

Pengajaran IPS harus diarahkan pada upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang mampu melakukan “adaptation” dan “adjustment” dengan cepat melalui cara-cara yang cerdas, serta di dalam prosesnya melibatkan pembuatan keputusan yang diketahui sebagai jantungnya IPS.  Pendekatan yang diterapkan pada pengajaran IPS, haruslah pendekatan multidimensional, atau ditinjau secara akademis harus interdisipliner atau multidisipliner. Inilah hakekat pelaksanaan pengajaran IPS (Sumaatmadja, 2001). Dengan demikian upaya strategis untuk meningkatkan kemampuan berfikir ilmiah siswa dalam pembelajaran IPS akan segera terwujud.

Kemampuan tersebut sangat dibutuhkan siswa dalam menghadapi kehidupan yang terus-menerus berubah dengan cepat.  Pandangan siswa menjadi tetap realistik dengan memperhatikan “local culture” dan “indigenous culture” karena pada akhimya masyarakat itu sendiri yang akan memanfaatkan hasil dari pembelajaran tersebut. Oleh karena itu, secara wajar guru IPS dituntut kemampuannya untuk dapat melakukan pendekatan interdisipliner atau multidisipliner.

Pendidikan IPS merupakan proses pengajaran yang memadukan berbagai pengetahuan sosial. Pengajaran IPS bukan merupakan pengajaran pengetahuan sosial yang terlepas-lepas antara satu dengan yang lainnya. Pengajaran IPS merupakan sistem pengajaran yang membahas, menyoroti, menelaah, dan mengkaji tentang gejala atau masalah sosial dad berbagai aspek kehidupan, atau melakukan interelasi dengan berbagai aspek kehidupan sosial dalam membahas gejala dan masalah sosial. Pendidikan IPS merupakan pengajaran tim (team teaching) tentang pengetahuan sosial. (Sumaatmadja, 2001).

Pendidikan  IPS yang ditinjau dari aspek isi, akan menyangkut penyelesaian fakta-fakta, konsep-konsep, dan generalisasi-genaralisasi dari berbagai disiplin ilmu sosial dan ditinjau dari aspek proses belajar, akan lebih menekankan pada aktivitas kognitif dan afektif untuk membandingkan, membedakan, membentuk hipotesis, dan membuat keputusan. Pendidikan IPS yang ditinjau dari aspek materi, akan cenderung mengarah pada tiga target pembelajaran yaitu: citizenship transmitter, social science position dan reflective inquirers (Barr, 1978).  Adapun yang dimaksud dengan istilah di atas adalah sebagai berikut:

1.     Citizenship transmitter, adalah pendidikan IPS yang disajikan sebagai pengetahuan untuk membangun prilaku siswa sebagai warganegara yang baik;

2.     Social science position, adalah disiplin sosial yang digunakan untuk membangun kreativitas berfikir dan bertindak sebagai warganegara di masa mendatang;  dan;

3.     Reflective inquirers, adalah proses pengembangan kemampuan berfikir siswa secara rasional, berlogika dengan baik, sehingga siswa memiliki kemampuan dalam mengambil keputusan dengan benar yang didasarkan kecerdasan dan kemampuan siswa dalam mengklarifikasikan struktur nilai.

 

Ischak (1997) menuliskan dalam bukunya bahwa tujuan IPS di SD secara keseluruhan mencakup hal-hal sebagai berikut:

a)     Membekali anak didik dengan pengetahuan sosial yang berguna dalam kehidupannya kelak di masyarakat.

b)     Membekali anak didik dengan kemampuan mengidentifikasi, menganalisis dan menyusun alternatif pemecahan masalah sosial yang terjadi dalam kehidupan di masyarakat.

c)     Membekali anak didik dengan kemampuan berkomunikasi dengan sesama warga masyarakat dan berbagai bidang keilmuan bidang keahlian.

d)     Membekali anak didik dengan kesadaran, sikap mental yang positif dan keterampilan terhadap pemanfaatan lingkungan hidup yang menjadi bagian dari kehidupan tersebut,

e)     Membekali anak didik dengan kemampuan mengembangkan pengetahuan dan keilmuan IPS sesuai dengan perkembangan kehidupan, masyarakat, ilmu pengetahuan, dan teknologi.

f)      Membentuk warganegara yang berkemampuan sosial dan yakin akan kehidupannya sendiri di tengah-tengah kekuatan fisik dan sosial, yang pada gilirannya akan menjadi warganegara yang baik dan bertanggung jawab.

 

Menurut Banks (dalam Maftuh, 2007),  selain ketiga tradisi dari Barr, Barth dan Shermis ada beberapa tradisi IPS lainnya yaitu IPS sebagai: (a) Interdisciplinari conceptual approach (Hilda Taba, dkk);  (b) the decision-making and sosial action approach (Banks dan Newmann) dan (c) the critical theory, postmodern approach (Popkewitz dan Cherryholmes).

Kemudian menurut Woolover dan Scott (dalam Maftuh, 2007) menyatakan bahwa tradisi IPS adalah (1) social studies as citizenship transmission. Meneruskan nilai-nilai lama yang dianggap penting oleh masyarakat kepada generasi muda (siswa/peserta didik).  Nilai-nilai yang dipandang sebagai “nilai-nilai yang baik” ditanamkan dalam upaya untuk mengajari siswa menjadi warga negara yang baik. Dimana biasanya menggunakan pendekatan indoktrinasi. (2) social studies as personal development. Membantu siswa untuk mengembangkan secara penuh potensi sosial, emosional, fisik dan kognitif. (3) social studies as reflective inquiry. Mendorong dan melatih siswa mengembangkan dan menggunakan keterampilan berfikir reflektif.  Kemudian mendidik siswa untuk lebih belajar berfikir dan untuk mengkaji masalah-masalah sosial secara kritis. Memfokuskan pada pembuatan keputusan dan pemecahan dari masalah sosial, termasuk masalah yang kontroversial. Materi dirancang dalam bentuk problematika dan siswa dilatih untuk mampu memecahkan problematika sosial tersebut dengan menggunakan langkah-langkah berfikir reflektif. (4) social studies as social science education. Membuat siswa mampu memahami ilmu-ilmu sosial. Menekankan pengajaran konsep dasar,  teori dan metode dari disiplin ilmu-ilmu sosial,  meyakinkan bahwa siswa (peserta didik) akan menjadi warga negara yang baik jika mereka  dapat memahami  dan  menerapkan konsep dan metode ilmu-ilmu sosial, dan (5) social studies as rational decision making and social action. Mengajari anak didik (siswa) membuat keputusan yang rasional dan bertindak sesuai keputusannya tersebut.

Sementara itu, secara khusus, Purwadi (1995) menjelaskan bahwa tujuan pendidikan IPS dibagi menjadi tiga kategori sebagai berikut:

a)     Pendidikan Kemanusiaan (humanistic education); yaitu membantu anak memahami pengalamannya dan menemukan arti kehidupan.

b)     Pendidikan Kewarganegaraan (citizenship education); yaitu siswa ikut berpartisipasi secara efektif dalam dinamika kehidupan masyarakat dengan penuh kesadaran sebagai warga Negara.

c)     Pendidikan Intelektual (intelectual education); yaitu siswa mampu menganalisa dan memecahkan masalah dengan menggunakan ilmu sosial sebagai alat.

 

Dengan kata lain bahwa pendidikan IPS, secara umum mencakup upaya untuk mengembangkan kemampuan pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap siswa secara utuh. Melalui pendidikan IPS, diharapkan siswa akan memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif dan inovatif yang sangat baik bagi pengembangan diri, intelektual, dan sosialnya.

Dalam upaya mewujudkan hal tersebut di atas, maka diperlukan pembaharuan dalam pengajaran dalam IPS, hal ini senada seperti yang dijelaskan oleh Somantri (2001: 264) memberikan ciri-ciri secara teoritis  yang dianggap pembaharuan dalam pengajaran IPS , yaitu:

a)     bahan pelajaran lebih banyak memperhatikan kebutuhan dan minat pelajar;

b)     bahan pelajaran harus lebih banyak memperhatikan masalah-masalah sosial;

c)     bahan pelajaran lebih banyak memperhatikan keterampilan berfikir, khususnya keterampilan menyelidiki;

d)     bahan pengajaran lebih memberikan perhatian terhadap pemeliharaan dan pemanfaatan lingkungan alam sekitar;

e)     kegiatan-kegiatan dasar manusia dapat dicerminkan dalam program studi;

f)      organisasi kurikulumnya bervariasi, mulai dari pengorganisasian yang ’integrated , correlated, dan separated’ ;

g)     susunan bahan pelajaran bervariasi mulai dari pendekatan kewarganegaraan, fungsional, humanistik dan struktural;

h)     kelas pelajaran IPS dikembangkan menjadi laboratorium demokrasi;

i)       evaluasinya bukan hanya pada askpek kognitif, afektif dan psikomotor, melainkan mencoba mengembangkan DQ (Democratic Quotient), dan CQ (Citizenship Quotient);

j)       unsur-unsur sosiologis, antropologis, dan pengetahuan sosial  lainnya memperkaya program studi, demikian pula unsur-unsur sains, teknologi, matematika dan agama ikut memperkaya bahan pelajaran.

 

C. Pengorganisasian Materi Pendidikan IPS

Materi Pendidikan IPS dapat dikembangkan di sekolah sesuai dengan tingkat perkembangan dan usia siswa sekolah dasar. Adapun materi Pendidikan IPS dikembangkan dari disiplin ilmu yang dipilih berdasarkan keterkaitan dengan tujuan. Pengembangan materi bergantung pada pendekatan yang dianut, baik secara integratif maupun kilektif. Khusus materi Pendidikan IPS di sekolah dasar ditata secara terpadu dan terintegrasi antara pokok bahasan satu dengan yang lainnya dengan melibatkan bahan kajian geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi tata negara dan sejarah.

IPS merupakan bidang pengetahuan yang digali dari kehidupan praktis sehari-hari di masyarakat. Masyarakat merupakan sumber serta objek kajian materi pendidikan IPS, berpijak pada kenyataan kehidupan yang riil (current event), dengan menyangkut isu-isu yang sangat berarti dari mulai kehidupan terdekat dengan siswa sampai pada kehidupan yang luas dengan dirinya.

Pada hakekatnya siswa sekolah dasar merupakan bagian dari masyarakatnya, dan sebagai anggota masyarakat, sejak dini dimulai dari keluarga. Anak telah dilatih untuk belajar bagaimana cara-cara berhubungan dengan sesama anggota keluarganya dengan baik, mengetahui hak dan kewajiban sebagai anggota keluarga dan seterusnya, hingga memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara. Untuk mempersiapkan menjadi anggota masyarakat yang matang, menurut Sumaatmadja (2001), bahwa proses pembelajaran IPS, harus dibina dalam suasana sosial kemasyarakatan yang kondusif, sehingga para siswa tetap merasakan ada dalam lingkungan yang wajar. Kekakuan suasana pembelajaran IPS terutama di dalam kelas, dapat berakibat tumbuhnya perasaan pada diri siswa seolah-olah ada dalam isolasi dari masyarakat nyata.

Chappin, J. R dan Messick, R. G. (1992) mengemukakan bahwa pengorganisasian materi IPS dalam kurikulum sekolah menggunakan dua pola pendekatan yaitu: a. Pendekatan lingkungan/masyarakat yang semakin meluas (expanding environment/communities) (Superka et al, dalam Sunal, 1993), dimulai dari lingkungan/masyarakat yang paling dekat dengan siswa ( diri sendiri orang lain dan keluarga), lingkungan tetangga/desa, sekolah, lingkungan yang lebih luas adalah dunia, b. pendekatan spiral (spiralled aproach). Pada model pendekatan ini, konsep-konsep dasar dan proses penyelidikan yang pokok dari ilmu-ilmu sosial (misalnya konsep keluarga, tetangga, RT/RW, kabupaten, propinsi, saling ketergantungan, perubahan budaya dan lain sebagainya diajarkan pada tiap kelas/tiap tahun tetapi dengan kadar yang semakin mendalam dan meluas, semakin lanjut atau semakin mempunyai abstraksi yang lebih tinggi. Materi yang dikembangkan tidak hanya berdasarkan pada lingkup atau bobot materi yang semakin mendalam dan meluas, tetapi memperhatikan pula aspek kecerdasan dan nalar siswa, seperti emosinya, sosial skill, intelektual dan motoriknya bahkan aspek spiritualnya.

Berdasarkan pengorganisasian materi IPS dalam kurikulum sekolah pada umumnya didasarkan pada dua dimensi pengorganisasian, yaitu ruang lingkup atau cakupan (scope) dan urutan atau sekuen”. Ruang lingkup menunjuk pada isi substantif (pokok/tema, materi, keterampilan dan nilai) yang termasuk dalam keseluruhan program pengajaran IPS. Sedang urutan menunjuk kepada  urutan di dalam berbagai komponen program IPS tersebut yang disajikan pada tiap tingkat/kelas/tahun selama program pendidikan sesuai dengan pencapaian pengetahuan dan pertumbuhan tingkat usia untuk mencapai tujuan program pengajaran IPS (Jarolimek, J dan Parker, W.C, 1993).

 

D. Karakteristik Pendidikan IPS

Prinsip pembelajaran di sekolah dasar sebagaimana dirumuskan dalam Development Appropirate Practice memiliki ciri antara lain: 1) belajar dari yang dekat dan dapat dijangkau anak, 2). menampakan diri jenjang yang serba faktual (operasional kongkrit), 3). memikirkan segala sesuatu yang dipelajari sebagai suatu kesatuan yang utuh dan terpadu (holistik dan integratif) 4). melakukan aktivitas belajar penuh makna (meaningfull) melalui proses manipulasi sambil bermain.

Berdasar prinsip-prinsip belajar tersebut serta dikaitkan dengan perkembangan siswa sekolah dasar baik bersifat fisik, mental, sosial dan moral akan mempengaruhi perkembangan kognitif siswa. Belajar konsep akan berhasil dengan baik bilamana siswa mengalami sendiri, mengerjakan/melakukan sendiri apa yang dipelajarinya. Sifat-sifat keingintahuannya tentang apa-apa yang diamatinya/dilihat, dirasakan dilingkungan sekitarnya dan sebagainya, semuanya tidak terlepas dari hubungannya perhatian guru untuk mengakomodasi siswa ke arah active learning. Siswa didorong untuk mengembangkan potensi dirinya melalui penemuan sebab-sebab suatu kejadian disekitarnya, menginteraksikan antara fakta dan kehidupan/lingkungannya, sehingga kesenjangan antara konsep-konsep yang dipelajarinya di kelas dengan gejala yang ditemukan dalam kehidupan nyata, untuk itu siswa tidak akan asing dengan segala fenomena yang ada dilingkungannya.

 

E. Perspektif dan Tujuan Pendidikan IPS

Kedudukan pengajaran IPS begitu unik karena harus mempersiapkan dan mendidik anak didik untuk hidup dan memahami dunianya, dimana kualitas personal dan kualitas sosial seseorang akan menjadi hal yang sangat vital. Menurut A. K. Ellis (1991 dalam Sapriya, dkk), bahwa alasan dibalik diajarkannya IPS sebagai mata pelajaran di sekolah karena hal-hal sebagai berikut:

a)     IPS memberikan tempat bagi siswa untuk belajar dan mempraktekan demokrasi.

b)     IPS dirancang untuk membantu siswa menjelaskan “dunianya”.

c)     IPS adalah sarana untuk pengembangan diri siswa secara positif.

d)     IPS membantu siswa memperoleh pemahaman mendasar (fundamental understanding) tentang sejarah, geographi, dan ilmu-ilmu sosial lainnya.

e)     IPS meningkatkan kepekaan siswa terhadap masalah-masalah sosial.

Barr dan teman-temannya (Nelson, 1987; Chapin dan Messick,1996 dalam Sapriya, dkk) merumuskan tiga perspektif tradisi utama dalam IPS. Ketiga tradisi utama tersebut ialah:

a)     IPS diajarkan sebagai pewarisan nilai kewarganegaraan (citizenship transmission).

b)     IPS diajarkan sebagai ilmu-ilmu sosial.

c)     IPS diajarkan sebagai reflektif inquiry (reflective inquiry).

Roberta Woolover dan Kathryn P. Scoot (1987 Sapriya, dkk) merumuskan ada lima perspektif dalam mengajarkan IPS. Kelima perspektif tersebut tidak berdiri masing-masing, bisa saja ada yang merupakan gabungan dari perspektif yang lain. Kelima perspektif tersebut ialah:

a)     IPS diajarkan sebagai pewarisan nilai kewarganegaraan (citizenship transmission).

b)     IPS diajarkan sebagai Pendidikan ilmu-ilmu sosial.

c)     IPS diajarkan sebagai cara berpikir reflektif (reflective inquiry).

d)     IPS diajarkan sebagai pengembangan pribadi siswa.

e)     IPS diajarkan sebagai proses pengambilan keputusan dan tindakan yang rasional.

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan keidupan bangsa , bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, mandiri, dan menjadi warga yang demokratis serta bertanggung jawab.

Tujuan pendidikan IPS di tingkat Sekolah Dasar (SD) ditujukan untuk mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan dasar siswa yang berguna untuk kehidupan sehari harinya. IPS sangat erat kaitannya dengan persiapan anak didik untuk berperan aktif atau berpartisipasi dalam pembangunan Indonesia dan terlibat dalam pergaulan masyarakat dunia (global society). IPS harus dilihat sebagai suatu komponen penting dari keseluruhan pendidikan kepada anak. IPS memerankan peranan yang signifikan dalam mengarahkan dan membimbing anak didik pada nilai-nilai dan perilaku yang demokratis, memahami dirinya dalam konteks kehidupan masa kini, memahami tanggung jawabnya sebagai bagian dari masyarakat global yang interdependen.

Siswa membutuhkan pengetahuan tentang hal-hal dunia luar yang luas dan juga tentang dunia lingkungannya yang sempit. Siswa perlu memahami hal-hal berkaitan dengan individunya, lingkungannya, masa lalu, masa kini, dan masa datang. Kesadaran akan pentingnya hubungan antara bahan IPS (social studies content), ketrampilan, dan konteks pembelajaran (learning contexs) dapat membatu kita untuk mengembangkan suatu IPS yang kuat kadar inquiri sosialnya.

Ketrampilan yang perlu dikembangkan dalam pendidikan IPS mencakup hal-hal sebagai berikut:

1)     Ketrampilan mendapatkan dan mengolah data.

2)     Ketrampilan menyampaikan gagasan, argumen, dan cerita.

3)     Ketrampilan menyusun pengetahuan baru.

4)     Ketrampilan berpartisipasi di dalam kelompok.

 

Dalam hubungannya dengan nilai dalam pendidikan IPS, seorang guru harus mendorong anak untuk aktif bertingkah laku sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku. Guru perlu memotivasi anak untuk memiliki sikap yang baik. Sangatah penting bagi seorang guru mendorong anak untuk memiliki sikap yang baik, karena dengan menciptakan pengalaman-pengalaman di dalam kelas siswa diharapkan akan melakukan perbuatan yang baik dalam kegidupan sehari-harinya.

Penelitian, tahun 2008.

Penggunaan Teknologi Multimedia Interaktif dalam Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Untuk Meningkatkan Pemahaman dan Retensi Siswa (Studi Eksperimen Kuasi di SDN Negeri 001 Limapuluh Kecamatan Sail Kota Pekanbaru)

Abstrak

Penggunaan multimedia interaktif dalam pembelajaran IPS ingin menterjemahkan materi abstrak menjadi lebih kongret, sehingga materi yang abstrak dapat tersampaikan dan siswa akan lebih memahami dan dimungkinkan pemahaman tersebut akan tersimpan dalam memori peserta didik (retensi). Penelitian ini bertujuan untuk merancang program pembelajaran dengan teknologi multimedia interaktif, menganalisis pengaruh teknologi multimedia interaktif terhadap pemahaman dan retensi siswa. Metode penelitian menggunakan ekperimen semu (quasi experiment) dengan desain “nonequivalent groups pre-test-post-test design” melibatkan 66 orang siswa sekolah dasar kelas IV. Data diproleh dari data kuantitaif dan data kualitatif. Dengan perumusan masalah: apakah multimedia interaktif dalam pembelajaran IPS dapat meningkatkan pemahaman dan retensi siswa. Data kuantitatif berupa tes pemahaman dan retensi siswa sedangkan data kualitatif berupa wawancara. Dari hasil analisis data pada skor rata-rata pretes kelas eksperimen 6,72 sedangkan kelas kontrol 5,64. skor rata-rata postes kelas eksperimen 12,00 dan kelas kontrol 9,27. Hasil analisis data gain menunjukkan peningkatan pemahaman siswa pada kelas eksperimen 0,65 dengan kriteria peningkatan sedang sedangkan kelas kontrol skor rata-rata gain 0,38 dengan kriteria peningkatan sedang. Hasil rata-rata retensi untuk kelas eksperimen adalah 106,00% sedangkan kelas kontrol adalah 91,13%. Wawancara terhadap siswa diperoleh informasi bahwa siswa sangat menginginkan belajar yang bervariasi dan berharap dapat diterapkan pada mata pelajaran yang lain. Tanggapan guru mengungkapkan bahwa mereka termotivasi untuk belajar komputer dan menerapkannya dalam proses pembelajaran. Rekomendasi penelitian ini dapat dikembangkan dengan membandingkan menggunakan teknologi multimedia interaktif individual dan pembelajaran menggunakan teknologi multimedia interaktif klasikal, perlunya ruang khusus (laboratorium komputer) yang lengkap, perlu adanya pelatihan untuk guru tentang pembelajaran multimedia interaktif, dan melalui pembelajaran dengan menggunakan multimedia diperlukan dana yang cukup, disarankan kepada pemerintah untuk pengadaan sarana dan prasarana dan media pembelajaran berupa komputer.

Nilai Ganjil Reguler

Berikut ini kumpulan nilai mahasiswa program studi PGSD FKIP Universitas Riau semester ganjil tahun akademik 2010/2011.

  1. Mata Kuliah Dasar TIK/Komputer (Kelas PGSD-REG-10), disini.
  2. Mata Kuliah Konsep Dasar Geografi di SD (Kelas PGSD-REG-08IPS-A), disini.
  3. Mata Kuliah Konsep Dasar Geografi di SD (Kelas PGSD-REG-08IPS-B), disini.
  4. Mata Kuliah Budaya Masyarakat Demokrasi, disini.

e-dukasi

Website ini memberikan informasi dan membantu guru dan peserta didik untuk dapat belajar secara online, selain itu tersedia juga bahan ajar setiap mata pelajaran, mulai dari tingkat sekolah dasar sampai sekolah menengah atas berbasis ICT, termasuk pengetahuan populer, modul online, multimedia interaktif, dan lain-lain, silahkan klik disini.

Pendidikan TV

Di website ini menyediakan venue untuk tenaga pendidik di lapangan agar mereka dapat membahas hal-hal terkait dengan pendidikan, sumber-sumber bahan pendidikan, dan video-clip mengenai praktek pengajaran untuk membantu guru-guru, silahkan klik disini.

Children

Children learn what They Live: If a child lives with criticism, He learns to condemn. If a child lives with praise, He learns to appreciate. If a child lives with tolerance, He learns to be patient. If a child lives with ridicule, He learns to be shy. If a child lives with encouragement, He learns confidences. If a child lives with shame, He learns to feel guilty. If a child lives with fairness, He learns justice. If a child lives with security, He learns to have faith. If a child lives with acceptance and friendship, He learns to find love in the world. (Dorothy Nolte).

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.